Apakabar kereta yang terkapar di senin pagiDi gerbongmu ratusan orang
Aku lihat orang yang matiDiantara tumpukkan sampahLehernya berdarah membekuBekas
Mengantuk perempuan setengah bayaDi bak terbuka mobil sayuranJam tiga pagi
He . . . . . ya y a
Pernah kita sama-sama susahTerperangkap di dingin malamTerjerumus dalam lubang j
Namaku Bento rumah real estateMobilku banyak harta berlimpahOrang memanggilku bo
Kau seperti bis kota atau truk gandenganMentang-mentang paling besar klakson
Wajah langit senja hariAda kelelawar melayangLaut yang bergolak didepanku .
Dikantin depan kelasku disana kenal dirimuYang kini tersimpan dihati jalani
Coretan di dinding membuat resahResah hati pencoret mungkin ingin tampilTepi
Sejak dilahirkan aku tak tahuSiapa orang tuakuAku berpindah dari satu
Memetik gitar dan bernyanyiPada waktu tak bertepiDi atas langit di
Dia adalah sahabatku bahkan lebihDia adalah yang diburu datang padakuSekedar
Hua ha ha ha haHua ha ha ha haHua ha
Apa jadinya jika mulut dilarang bicaraApa jadinya jika mata dilarang
» More on Iwan Fals